Translate

Wednesday, July 25, 2012

Real Time Analytic Processing


Real Time Analytic Processing (RTAP)
Enabling continues and extremely fast Stream Computing in Bigdata processing 
Capture and Act on all of your moving business data (data-in-motion) in Real Time
 
Kita yang berkecimpung di dunia teknologi informasi tentunya sudah pernah mendengar tentang istilah OLTP dan OLAP. OLTP – OnLine Transaction Processing, seperti namanya, merupakan metodologi analisa data secara cepat yang berasal dari aplikasi berbasiskan transaksi, sedangkan OLAP OnLine Analytical Processing merupakan analisa data multi dimensi secara interaktif melalui 3 cara analisa operasional: consolidation (roll-up), drill-down, dan slicing & dicing. Keduanya melibatkan analisa data dalam jumlah yang besar.
Disarikan dari wikipedia.org, pengertian aplikasi berbasis transaksi lebih kepada aplikasi yang membutuhkan respon langsung, seperti transaksi di ATM misalnya . Kita sebagai nasabah yang sedang berdiri di depan ATM tidak mau menunggu bahkan 5 menit saja untuk mengambil uang saat mesin ATM menampilkan pesansilahkan tunggu…”, apalagi menunggu beberapa jam. Sedangkan analisa data multi dimensi dapat berupa laporan manajemen, laporan bisnis untuk sales atau marketing, serta business process management.
Analisa OLTP dan OLAP lebih kepada stored-data yang terstruktur, artinya data yang akan dianalisa sudah pernah tersimpan di dalam suatu database, kemudian dilakukan analisa. Tantangan untuk analisa data akan sangat berbeda kalau data tersebut sedang bergerak (data-in-motion) dan terdiri dari kombinasi data terstruktur dan tidak terstruktur. Data tidak terstruktur dapat berupa gambar, text, maupun video. Kemudian, bagaimana kalau  data yang bergerak (data-in-motion) itu sedemikan besar, misal dalam skala Giga Bytes, Tera Bytes atau bahkan Peta Bytes per hari?
Menganalisa data bergerak yang sedemikian besar merupakan suatu tantangan tersendiri. Data dapat berasal dari berbagai sumber seperti sensor, kamera, news feed, atau sumber lainnya termasuk database.
Di Manufacturing, kita dapat menempatkan sensor sebagai quality control pada saat tahap pembotolan produk minuman misalnya.  Sensor yang di tempatkan pada production line yang berbeda secara bersamaan dapat memberikan feedback terhadap sistem monitoring untuk melakukan pemantauan terhadap kualitas minuman dan memberikan alert kepada pengawas yang bertugas jika terjadi sesuatu di luar dari kualitas yang seharusnya (misal ada kebocoran yang menyebabkan minuman terkontaminasi bahan lainnya sehingga konsentrasinya menjadi berbeda). Dalam kondisi tertentu yang sudah didefinisikan sebelumnya melalui rules, sistem monitoring dapat secara proaktif menginstruksikan untuk menutup valve utama pengisian ke botol-botol, agar supaya minuman tidak terbuang percuma dan dapat segera dilakukan analisa kebocoran untuk mencari penyebabnya.
Dalam dunia telekomunikasi, pergerakan data dapat dengan mudah mencapai skala Terabit per detik. Churn Analysis (kemungkinan customer tidak menggunakan nomor-nya lagi) dan Retention Management dapat dilakukan dari sumber data bergerak seperti CDR (Call Detail Record), yang dikombinasikan dengan data demografik customer, billing service dan attitude information serta historical analysis untuk dapat mengembangkan program-program promosi pemasaran yang lebih tepat guna.
Tipe analisa data seperti ini, di mana jumlah data sangat besar dan bergerak secara cepat (data-in-motion) dan membutuhkan respon yang cepat secara real-time disebut sebagai Real Time Analytics Processing (RTAP).

lihat juga artikel lainnya Mengenal Big Data

Sunday, July 1, 2012

Petunjuk Praktis untuk Memperoleh Gelar MM/MBA di Indonesia dengan Menyelesaikan Case Study sebagai Thesis


Saat ini anda mungkin sedang memilih sekolah bisnis yang tepat untuk melanjutkan studi ke jenjang magister atau anda sudah memiliki beberapa sekolah bisnis untuk dipertimbangkan atau bahkan telah menentukan satu pilihan.

Keputusan untuk memilih sekolah bisnis akan tergantung kepada situasi anda sekarang ini. Kemungkinannya adalah:

  • Anda baru lulus jenjang Strata-1 (S1) dari jurusan pemasaran, ekonomi, keuangan atau teknik dan akan langsung melanjutkan studi jenjang Strata-2 (S2) bisnis
  • Anda sudah memiliki pengalaman bekerja selama beberapa tahun di suatu industri dan berpikir bahwa jenjang S2 bisnis akan dapat mendukung karir anda di masa depan
  • Anda sudah meninggalkan bangku sekolah untuk jangka waktu yang cukup lama untuk mengejar karir, dan sekarang anda sudah menjadi bagian dari manajemen di perusahaan
  • Anda sudah menjalankan bisnis sendiri dan berpikir ada baiknya untuk melanjutkan studi jenjang S2 bisnis
  • Perusahaan di mana anda bekerja sekarang mengharuskan pegawai untuk memiliki gelar magister bisnis, sebagai salah satu syarat utama untuk dapat dipromosi ke tingkat manajemen puncak dan tidak ada cara lain untuk mendapatkan promosi tanpa mendapatkan gelar tersebut
  • Atau anda mungkin punya alasan sendiri untuk mengambil kuliah jenjang magister.
Apapun situasi anda sekarang, dari berbagai jurusan yang ada di sekolah bisnis, anda akan menemukan satu jurusan yang lebih sesuai dengan keinginan anda. Program-program yang ada di banyak sekolah bisnis menawarkan program regular atau eksekutif. Program reguler berarti bahwa kelas anda akan dijadwalkan pada hari biasa, baik siang, sore atau malam hari. Program ini cocok untuk para lulusan baru atau yang sudah memiliki pengalaman bekerja beberapa tahun. Program eksekutif yang biasanya diadakan di akhir pekan memberi kesempatan kepada calon mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan di luar hari kerja biasa.

Program reguler dapat menawarkan berbagai jurusan: misalnya keuangan, akuntansi, pemasaran, sistim informasi, sumber daya manusia atau manajemen umum. Walau jurusan lainnya mungkin saja dapat ditawarkan di kemudian hari, saat ini kebanyakan program eksekutif yang diadakan pada akhir pekan hanya menawarkan satu jurusan, yaitu manajemen umum.

Sebelum mengambil program tersebut, penulis sebagai calon mahasiswa merasakan sulitnya mendapatkan informasi mengenai “seperti apa sih kuliah di sekolah bisnis?” di mana menyebabkan mahasiswa/i (selanjutnya disebut mahasiswa saja) kesulitan mengadaptasikan dirinya terhadap metode cara belajar-mengajar yang baru, terutama pada saat-saat awal kuliah. Sebelum perkuliahan dimulai, ada baiknya jika mahasiswa dapat memperoleh informasi lebih awal “bagaimana sih proses belajar mengajar dengan menggunakan metode pengajaran studi kasus (case study teaching method)?”. Kemudian, pada saat mahasiswa akan membuat thesis, studi kasus (case study) mungkin menjadi pilihannya. Beberapa dari mereka mungkin bertanya-tanya dalam hati “saya telah belajar menganalisa beberapa ratus kasus selama kuliah, dan sekarang saya ingin menulis studi kasus untuk thesis saya – bagaimana cara memulainya yah?”

Sekolah bisnis jenjang magister (S2) di indonesia akan memberikan gelar MM (Magister Manajemen) dan/atau MBA (Master of Business Administration) setelah mahasiswa dinyatakan lulus dan memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan. Beberapa sekolah bisnis menawarkan program dual degree di mana anda akan mendapatkan gelar MM dan MBA sekaligus. Kedua gelar tersebut adalah gelar akademis jenjang magister.

Hari pertama kembali ke bangku kuliah merupakan saat yang menyenangkan bagi kebanyakan kita semua. Untuk anda yang mengambil program eksekutif , sebagian besar mungkin sudah lama berkecimpung di dunia industri sejak lulus S1, sehingga berada di kelas dengan teman-teman baru dan lepas dari aktivitas rutinitas bisnis sehari-hari adalah benar-benar menyegarkan. Kebanyakan mahasiswa di program eksekutif telah memiliki pengalaman pada beberapa posisi manajerial, baik jenjang manajemen  yunior maupun manajemen puncak, atau bahkan merupakan pemilik dari suatu bisnis.

Pada beberapa sesi pertama perkuliahan, anda mulai saling mengenal satu sama lain, saling belajar dan tukar pengalaman, dan juga mulai mengenal para dosen.

Selanjutnya, anda perlu mulai membiasakan diri dengan lingkungan kampus seperti layanan mahasiswa, layanan perkulianan, layanan fotokopi, perpustakaan, toko buku, kantin, dan lainnya;  Juga menyelesaikan urusan administrasi seperti mendaftarkan mobil untuk layanan parkir gratis, melengkapi semua pernyaratan administrasi yang masih tertunda, dan sebagainya. Kelas akan memilih seorang ketua kelas sebagai wakil untuk mengelola semua aktivitas di kampus yang berhubungan selama proses perkuliahan, sebagai wakil untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak di  sekolah bisnis seperti dosen, bagian layanan operasional perkuliahan, dan layanan dokumen.

Penulis membuat suatu buku tentang pengalaman mengambil program tersebut. Buku ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis saat mengambil kuliah selama dua tahun di sekolah bisnis jenjang magister, pasca sarjana (graduate business school) di Jakarta.  Program yang diambil adalah executive weekend program dengan jurusan general management di Binus Business School.  Buku tersebut terdiri dari 230 halaman, dengan ISBN: 978-1466251281, yang berjudul “Case Study Method in Leading Graduate Business Schools: A Practical Guide for Getting Your MM/MBA Degree in Indonesia by completing a case study thesis”, walaupun tidak jadi diterbitkan oleh penerbit lokal di Indonesia, sekarang sudah tersedia di Amazon.com: http://www.amazon.com/Method-Leading-Graduate-Business-Schools/dp/146625128X. Buku yang diterbitkan pada bulan Agustus tahun 2011 ini juga tersedia dalam bahasa Indonesia, walaupun versi bahasa Indonesianya tidak jadi diterbitkan.

Bab-bab pada buku ini telah ditata sedemikian rupa, sehingga secara praktis dapat memberikan ilustrasi kepada para mahasiswa maupun calon mahasiswa tentang kuliah di sekolah bisnis, yang menerapkan case method. Case study teaching method telah banyak diterapkan dan terus diadopsi oleh sekolah bisnis di dunia semenjak diperkenalkan pertama kali di Harvard Law School.

Contoh dari studi kasus yang dibuat oleh penulis sebagai thesis, dibuat untuk keperluan diskusi dan analisa agar para mahasiswa di kelas-kelas berikutnya mendapatkan gambaran tentang apa yang mereka akan pelajari. Kemudian saat para mahasiswa telah kuliah di suatu sekolah bisnis dan memutuskan untuk menulis studi kasus untuk thesisnya, maka mereka akan lebih siap untuk memulai proses penulisan tersebut.

Penjelasan diperkaya dengan komentar dari lulusan beberapa sekolah bisnis di Indonesia seperti IPMI Business School, Master of Management Gajah Mada Business School (MMUGM), Magister Manajemen Agribisnis (MMA-IPB), Master of Management Universitas Indonesia (MMUI), Binus Business School (BBS), PPM Institute of Management (Sekolah Tinggi Manajemen PPM), dan Prasetiya Mulya Business School.

Komentar-komentar dari para lulusan dimaksudkan hanya untuk menunjukkan opini independen pada saat mereka kuliah di sekolah bisnis tersebut. Komentar-komentar tersebut tidak dimaksudkan untuk mewakili persepsi para mahasiswa secara umum untuk sekolah bisnis tertentu, karena para lulusan dipilih acak dan komentar-komentar tersebut tidak dikumpulkan berdasarkan metoda statistik (misalnya mengumpulkan minimum 30 sample untuk menghasilkan distribusi normal).

Buku ini dimaksudkan sebagai suatu kontribusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia untuk mendukung para mahasiswa dan orangtuanya dalam memilih sekolah bisnis, dengan memberikan suatu gambaran singkat tentang pembelajaran studi kasus di sekolah bisnis. Buku ini juga merupakan petunjuk praktis untuk para mahasiswa pada saat kuliah di sekolah bisnis terutama bagi sekolah bisnis yang menerapkan case method. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang memilih untuk menulis studi kasus untuk thesisnya, maka semakin banyak pula kontribusinya kepada dunia pendidikan di Indonesia. Kemudian, buku ini juga berguna bagi para orang-tua para calon mahasiswa, yang sedang memutuskan untuk mengirimkan anak-anaknya ke sekolah bisnis, apakah di dalam maupun di luar negeri. Sekolah bisnis di Indonesia dapat sangat dipertimbangkan sebagai alternatif dengan kualitas yang baik. Penulis berharap buku ini akan dapat berguna bagi siapapun yang tertarik untuk mengetahui tentang sekolah bisnis, terutama tentang metode studi kasusnya.

Saturday, June 30, 2012

Mengenal trend Social Business


Kita sering mendengar tentang istilah Generation-Y (generasi milenium), yang sering dikatakan sebagai generasimelek internet”, yang sudah sangat akrab dengan teknologi seperti Smartphone, iPad, Blackberry, facebook, twitter, Online Gaming, Chatting, Video Conferencing dan lainnya. Generasi milenium ini biasanya adalah orang-orang yang lahir sekitar awal tahun 1980-an yang secara budaya telah mengadopsi teknologi canggih yang berbeda jauh dengan generasi pendahulunyaGeneration-X’.
Diidentifikasikan, ada 4 teknologi utama yang mendukung tranformasi bisnis, mulai dari 1. Mainframe, 2. Departmental computing, 3. Personal Computer (PCs) dan sampai ke 4. Internet. Saat ini, era Internet yang merupakan connected computers sedang bertransformasi menjadi connected people. Inilah era baru yang ke-5 yang disebut sebagai era Social Business.
Konsep Social Business meliputi hal-hal sebagai berikut: reach people where they live and work, engage people productively in a business context, discover new insights from people and content, serta Integrate social intelligence into core processes.
Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar istilah crowdsourcing,  di manabiasanya melalui media sosial seperti facebook ataupun twitter, secara informal kita meminta pendapat teman-teman tentang sesuatu hal yang dapat mempengaruhi kita dalam memilih suatu produk, membeli smartphone baru misalnya. Fenomena ini, yang dimungkinkan dengan adanya Social Network, telah banyak mengubah cara kita sebagai konsumen dalam memilih suatu produk. Demikian pula halnya dari sisi produsen, telah banyak mengubah cara-cara dalam melakukan advertising dan segmentasi pasar.
Sebagai contoh, ada suatu perusahaan multi-nasional yang bergerak dalam bidang minuman berenergi, memfokuskan pemasaran dan promosi produk-produknya dengan melibatkan atlit-atlit ternama. Ternyata, setelah melalui analisa media sosial (social media analytics) seperti facebook & twitter, pengguna terbesar dari produknya adalah para Gamers. Mereka menyadari dan menemukan bahwa target pasar yang ditentukan sebelumnya ternyata berbeda dengan kenyataannya. Berdasarkan informasi dari social analytics tersebut, strategi pemasaran kemudian diubah dan lebih difokuskan kepada para Gamers, salah satunya dengan cara menempatkan vending machine di Internet Cafe (di Indonesia disebut sebagai warnetwarung internet) yang tersebar di banyak tempat, yang memberikan hasil bisnis yang menggembirakanyaitu peningkatan penjualan secara signifikan.
Istilah lain dalam Social Business adalah Tipper, yang biasanya berupa seorang/beberapa expert dalam suatu komunitas yang opini-nya di-respect oleh para follower-nya dalam memilih sesuatu. Misal, seorang expert yang melakukan suatu review terhadap mobil keluaran baru. Tipper dapat menjadi target dari produsen, sebagai partner bisnis dalam melakukan promosi produknya.

Monday, June 18, 2012

Life in metropolitan city, my writing experience in Starbucks


Kebanyakan dari kita tentu sudah mengenal Starbucks – dengan lokasi yang tersebar di berbagai tempat di berbagai penjuru dunia, di mana kita dapat menikmati makanan dan minuman yang tersedia dalam suasana yang nyaman dan santai. Kadang, kita bertemu teman-teman maupun para rekan bisnis untuk hanya sekedar berdiskusi maupun bersantai sambil mengobrol bersama.

Di Indonesia, terutama kota-kota besar metropolitan seperti Jakarta, gerai Starbucks hampir dapat ditemui di berbagai tempat keramaian dan pusat bisnis seperti mall, perkantoran dan tempat-tempat keramaian lain pada umumnya (rest area di jalan tol misalnya).

Salah satu minuman favorit saya di pagi hari adalah tall two pumps vanilla latte, hot yang dinikmati dengan oatmeal raisin scone, peanut butter ataupun smoked beef mushroom panini. Walau kalau menikmati di siang ataupun sore hari, saya lebih suka menikmatinya dingin - tall two pumps vanilla latte, iced. Beberapa favorit lain yang kadang saya pesan: tall or grande signature iced chocolate, iced green tea dan iced passion fruit tea.

Ada suatu masa di pertengahan tahun 2006 sampai awal tahun 2008, di mana hampir setiap weekend saya menghabiskan sore hari dengan duduk berjam-jam di Starbucks Senayan City. Mengapa? Ini karena saat itu sedang mengambil kuliah Strata-2, program MM Eksekutif di Binus Business School, yang kebetulan gedungnya bersebelahan dengan Senayan City mall. Hari sabtu setelah jam lima sore adalah waktu selesainya jadwal kuliah, dan biasanya sebagai mahasiswa kita sudah dibekali dengan pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk persiapan kuliah di hari sabtu berikutnya. Banyak dari pekerjaan rumah ini adalah berupa tugas membaca studi kasus (case study), untuk dapat didiskusikan bersama di kelas berikutnya nanti. Studi kasus tersebut biasanya berasal dari universitas-universitas ternama seperti Harvard Business School, MIT Sloan Business School, dan lainnya. Hampir tidak ada studi kasus lokal, dengan pengarang orang Indonesia.

Segelas, kadang beberapa gelas Starbucks Coffee dan sebuah Thinkpad (sebutan untuk notebook merk IBM, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Lenovo Thinkpad), dengan 3G modem untuk akses Internet, selalu setia menemani saya di hari-hari tersebut. Cukup sering, saya dapat duduk sampai berjam-jam mengerjakan tugas-tugas yang kebanyakan berupa Studi Kasus. Kadang juga berdiskusi bersama teman-teman, jika memang itu tugas kelompok. Diskusi bisa dilakukan sambil duduk-duduk minum kopi, ataupun secara virtual dengan memanfaatkan teknologi (dengan miling list di salah satu penyedia forum diskusi online, yahoogroups atau googlegroups misalnya).

Masa kuliah sekitar 20-bulan, dengan diskusi studi kasus di berbagai industri dan fokus seperti Manufacturing, Sales, Marketing, Teknologi Informasi, Human Resources, Operasional, dan lain-lain menjadikan saya berpikir untuk membuat thesis (tugas akhir) yang juga berupa studi kasus. Hal ini juga sangat didukung oleh tim manajemen kampus saat itu, karena kebanyakan mahasiswa menghindari pembuatan studi kasus dan memilih jalur yang normal saja: seperti studi pustaka ataupun riset. 

Membuat thesis berupa studi kasus menjadi tantangan tersendiri karena banyak waktu yang harus diinvestasikan untuk melakukan wawancara dengan para pemeran kunci (misal: manajemen puncak), sehingga dapat menganalisa berbagai macam tantangan bisnis dalam melakukan sesuatu tujuan bisnis tertentu. Setelah melalui beberapa proses pencarian, salah seorang dosen yang juga pemilik dari beberapa bisnis bersedia untuk menjadikan salah satu fokus bisnisnya yang sudah berjalan, untuk dapat dibuat menjadi studi kasus. Ia bersedia untuk melakukan wawancara dengan waktu yang sangat fleksibel, yang biasanya dilakukan di hari sabtu atau minggu, dengan pemilihan tempat bertemu, cukup sering di Starbucks Senayan City. Studi kasus tersebut – dengan fokus inovasi bisnis perusahaan lokal, direncanakan akan menjadi salah satu materi bahan perkuliahan berikutnya, sebagai tambahan dari materi-materi studi kasus yang telah ada.

Di akhir masa perkuliahan, thesis saya yang berupa suatu studi kasus sudah menjadi cukup lengkap dengan format standar thesis, studi kasus untuk dibagikan kepada para mahasiswa sebagai bahan bacaan, serta dilengkapi dengan petunjuk untuk para dosen dalam menyampaikannya di kelas, sehingga menurut salah seorang dosen sebaiknya dipertimbangkan untuk dibuat menjadi buku saja. Ini membuat penambahan waktu weekend lebih banyak lagi di Starbucks Senayan City, menghabiskan sekitar tiga bulan untuk menulis buku setelah thesis selesai, untuk versi bahasa inggrisnya.

Buku tersebut terdiri dari 230 halaman, dengan ISBN: 978-1466251281, yang berjudul “Case Study Method in Leading Graduate Business Schools: A Practical Guide for Getting Your MM/MBA Degree in Indonesia by completing a case study thesis”, walaupun tidak jadi diterbitkan oleh penerbit lokal di Indonesia, sekarang sudah tersedia di Amazon.com: http://www.amazon.com/Method-Leading-Graduate-Business-Schools/dp/146625128X. Buku yang diterbitkan pada bulan Agustus tahun 2011 ini juga tersedia dalam bahasa Indonesia, walaupun versi bahasa Indonesianya tidak jadi diterbitkan.

Saat ini, saya lebih sering mengunjungi Starbucks Citiwalk maupun Starbucks di gedung BNI 46, Jakarta. Ini dikarenakan lokasi kantor yang memang berlokasi di daerah Sudirman. Dan karena cukup banyak juga aktifitas kantor di sekitar Plaza Indonesia dan Grand Indonesia, segelas kopi Starbucks menjadi teman setia terutama di pagi hari.

Di beberapa gerai Starbucks yang rutin saya kunjungi, para Barrista sudah menyapa dengan nama, “Selamat pagi Pak Andi, yang biasa pak? – for here tall two pumps vanilla latte, hot”, artinya  untuk minuman sudah tidak perlu memesan lagi, tinggal memilih mau tambah pesan makanan yang mana.

Saat kita membayar, rasanya senang kalau kertas print-out-nya lebih panjang dari biasanya, mengapa? Ini karena kita telah mendapatkan customer voice - suatu program dari Starbucks, di mana dengan login ke website Starbucks yang tertulis di kertas tersebut dan mengisi feedback, maka kita akan mendapatkan gratis satu minuman yang kita pilih. Saya sudah mendapatkan customer voice ini puluhan kali dalam 2 tahun belakangan ini, dan banyak juga yang saya bagikan kepada teman-teman. Dan dengan menggunakan BCA card yang berlaku sepanjang hari sepanjang tahun, minuman ini dapat dinikmati hanya dengan harga ukuran gelas short saja, artinya dari ukuran gelas short di-updgrade ke ukuran tall.

Bagi para pebisnis, memang tepat kalau dikatakan, Starbucks merupakan pilihan tempat singgah ke-tiga, selain rumah dan kantor dalam melaksanakan aktifitas kita sehari-hari.

Tuesday, May 15, 2012

Mengenal Precision Marketing


Mengenal Precision Marketing
Turning Non-Customers to be Customers and turning Customers to be better Customers

 Dalam situasi bisnis e-commerce saat ini, kita sering menerima promosi melalui email maupun SMS (Short Message Service) yang dikirimkan secara masal oleh para produsen ke para pelanggannya, dengan asumsi bahwa kita akan tertarik kepada promosi-promosi tersebut. Sebagai contoh, bisa saja kita menerima suatu email promosi mengenai peralatan fotografi terbaru; sekilas, promosi ini terlihat biasa saja - namun promosi ini tidak berarti apa-apa bagi orang yang senang dengan peralatan musik misalnya. Inilah contoh imprecise marketing, mengirimkan promosi secara masal tanpa mengetahui profil dari para pelanggan.
Precision Marketing, memiliki tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas di mana suatu bisnis dapat menarik, mempertahankan dan memanfaatkan segmen tertentu dari para pelanggan yang dapat menguntungkan perusahaan. Tujuan utama dari Precision Marketing dalam bisnis e-commerce adalah untuk meningkatkan browser-to-buyer conversion ratio, artinya seberapa tinggi tingkat pengunjung website kita yang melakukan transaksi untuk membeli produk-produk yang kita tawarkan melalui katalog produk yang tersedia di website kita tersebut. Precision Marketing adalah tentang bagaimana untuk mengubah bukan pelanggan menjadi pelanggan, dan mengubah pelanggan kita menjadi pelanggan yang lebih baik lagi. Ini dilakukan dengan melakukan promosi marketing secara tepat dalam saat yang tepat sehingga para pelanggan dapat membeli produk-produk yang ditawarkan.
Menurut wikipedia.org, Precision Marketing merupakan suatu teknik pemasaran dengan kecenderungan tingkat kesuksesan tinggi yang dilakukan melalui aktifitas retaining, cross-selling dan upselling kepada customer yang sudah anda miliki saat ini (existing customers). Precision marketing menekankan kepada relevansi, sebagai bagian dari tekniknya. Untuk mencapai relevansi tersebut, pelaku precision marketing mencoba mendapatkan personal preference langsung dari para individu target pasarnya; juga mengumpulkan dan menganalisa perilaku dan data transaksional.
Precision Marketing mencari cara untuk dapat mengurangi biaya akuisisi pelanggan baru dan biaya purna jual, dan dalam waktu yang bersamaan meningkatkan produktifitas dari budget yang tersedia untuk pemasaran. Secara khusus, ini berarti akan meminimalisir uang yang terbuang percuma dengan melakukan pemasaran kepada orang-orang yang bukan merupakan target pasarnya. Bukan target pasar adalah orang-orang yang bukan merupakan calon pembeli dari produk atau layanan yang ditawarkan.  Dengan demikian aktifitas pemasaran yang presisi dan dipersonalisasi ditargetkan hanya kepada segmen individu tertentu untuk dapat meningkatkan rasio pengunjung website kita menjadi pembeli.